Jumat, 24 Agustus 2007

Meraih Kemuliaan dari Tamak

Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tak akan kenyang. Pertama orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan kenyang.
(Nabi Muhammad SAW)


Menurut Hadist yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya. Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang Islam.

Adapun terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan dari usahanya untuk meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan dengan hikmah.

Sabda Rasullullah SAW, "Ilmu laksana hak dari seorang Muslim yang hilang, dimanapun ia menjumpainya, di sana ia Mengambilnya." (HR. Al Askari dan Anas ra).

Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana srigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun buruannya itu bukan haknya. Fitrah manusia memang mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha.

Firman Allah SWT: "Katakanlah (hai Muhammad), Jika seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu, kalian tahan (simpan) karena takut menghilangkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS. Al Isra:100).

Rasullullah saw bersabda: "Hamba Allah selalu mengatakan, 'Hartaku, hartaku', padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hinggga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang lain sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan yang hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain," (HR. Muslim).

Seorang Muslim adalah orang yang meyakini bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah SWT. Dia juga yakin bahwa setiap manusia tidak akan menemui ajalanya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah dicukupkan kepadanya. Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagaian hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan.

Rasullullah bersabda: "Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang-orang yang dikaruniai harta kekayaan dan dihabiskan untuk meneggakan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya (kepada orang lain).

Wallahu a'lam bis shawwab.

(Ir. Moh. Arif Yunus)

Tidak ada komentar: